BSC CLUB PADANGSIDIMPUAN
MY TEAM
Selasa, 18 Februari 2014
Selasa, 17 Desember 2013
Rabu, 12 Agustus 2009
MAMFAAT RENANG
Cobalah berenang. Dengan renang, manfaat olahraga tanpa harus kepanasan atau berkeringat bisa didapat. Tubuh bugar, hati pun bahagia. Olahraga Yang “Bersahabat”.
Berenang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Dengan berenang seluruh tubuh bergerak, kelompok otot-otot besar akan digunakan seperti otot perut, otot lengan, pinggul, pantat dan paha.
Berenang (di tempat dan kualitas air yang memenuhi syarat kesehatan dan keamanan), termasuk sebagai olahraga aerobik yang akan membuat paru-paru sehat, sendi lebih lentur terutama di bagian leher, bahu dan pinggul, karena bagian-bagian tubuh tersebut digerakkan.
Renang juga baik untuk mereka yang kelebihan berat badan, hamil, orang lanjut usia atau mereka yang menderita arthritis. Karena, ketika berenang seluruh berat badan ditahan air (mengapung); sehingga, sendi-sendi tubuh tak terlalu berat menopang badan. Dengan renang akan terlatih menggunakan pernapasan secara efisien.
Perkenalkan renang pada sejak awal pada anak-anak agar mereka menyukai karena sifatnya yang seperti “main air”.
Dengan renang, tubuh akan membakar sekurang-kurangnya 275 kalori/jam, setara dengan bersepeda dan jalan-cepat. Meski kalori yang terbakar tak sebanyak dengan lari atau tenis misalnya, karena renang itu menyenangkan, bisa-jadi akan dilakukan lebih lama, sehingga, kalori yang dibakar bisa lebih banyak.
Memperoleh Manfaat Berenang
Agar bisa menmemperoleh manfaat renang, hendaklah berenang dengan benar. Kalau hanya bermain-main dengan air memang menyenangkan, tetapi hal ini hanya melibatkan aktivitas fisik yang sangat rendah.
Dianjurkan dengan bantuan instruktur renang yang berpengalaman, sebaiknya berkonsultasi lebih dahulu dengan dokter spesialis kesehatan olahraga (SpKO) atau spesialis rehabilitasi medik (SpRM) terlebih yang bermasalah kesehatan. Perhatikan pula keamanan tempat renang demi kesehatan karena pada orang tertentu kejadian sakit akan lebih sering bila berenang. Perhatikan juga kualitas air misalnya: kejernihan, derajat-keasaman (pH) bahkan polusi, yang bisa saja dapat mengganggu kesehatan.
Mulailah dengan melakukan pemanasan dan peregangan terlebih dahulu, agar tubuh siap-gerak. Pemanasan akan membuat suhu tubuh dan detak jantung meningkat perlahan-lahan. Lakukan pemanasan dengan berjalan-jalan sekitar kolam renang selama 10 menit, lalu, regangkan sedikitnya 15 kali hitungan setiap otot. Peregangan salah satu upaya menghindari kram.
Lakukan pemanasan dan peregangan selama 5-10 menit, lalu teruskan dengan berenang selama 20-40 menit tanpa henti. Jika memulai berenang sebagai program kebugaran, lakukanlah bertahap. Jangan langsung berenang selama 30 menit tanpa jeda, misalnya. Mulailah dengan satu putaran menyeberangi kolam, lalu istirahatlah selama 30 detik. Setelah beberapa minggu, latihan bisa ditingkatkan. Sebaiknya, berganti-ganti gaya renang supaya semua otot terlatih.
Kemudian akhiri dengan pendinginan, yaitu renang perlahan-lahan selama 5 menit. Tutup latihan dengan minuman kesukaan, misal segelas susu Bear Brand atau Milo. Lakukan hal ini setelah setengah jam usai berenang. Dengan minum Bear Brand atau Milo, energi dan vitalitas akan kembali.
Berenang selama 3-5 kali seminggu serupa manfaat olahraga aerobik yang dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung dan paru-paru.
Buatlah acara renang untuk bersenang-senang misalnya dengan bergabung dengan klub penggemar renang untuk memperoleh variasi latihan.
Bila mengajak anak berenang ketika harus ditinggal mintalah guard mengawasinya atau ajak main bersama menikmati luncuran-air atau main bola bersama.
__________________
| Komentar: 2 (Lihat) | Beri Komentar | Recommen | Print |
| hirman Selasa, 11 November 2008 @ 20:47 WIB (Reply) aku mau berbagi info boleh? kursus renang | belajar renang | les renang akademi-renang.com mempunyai instruktur pengalaman dalam memberikan pelajaran berenang, profesional, sabar, ramah, dan menyenangkan. program kursus berenang one on one dan group yang tidak lebih dari 6 orang untuk 1 kelas terbukti berhasil. itu terdiri atas kelas berenang anak-anak atau orang dewasa, wanita dan juga untuk individu siapa saja yang ingin menyempurnakan teknik berenang yang berbeda, atau bahkan untuk persiapan untuk perlombaan nasional, seperti pekan olahraga nasional(pon) maupun sea games. what are the benefit to swim with us? you will learn to swim in the shortest time friendly, professional and certified swimming coaches you can choose your own swimming lesson time and location you will learn step by step without stress. you can request for intensive swimming lesson. you will learn to tread water, plunge, dive, float, and many more swim for your health, fun, relax and distress.... infomasi : www.akademi-renang.com telp : 021 6879 5789 | ||
Kamis, 08 Januari 2009
LATIH OTOT ANAK DENGAN BERENANG

skip to main | skip to sidebar
Latih Otot Anak dengan Olahraga Renang
BERENANG merupakan olahraga yang cukup digemari semua kalangan termasuk anak- anak. Hal itu tak mengherankan mengingat renang bukan saja menyehatkan tapi juga menyenangkan. Segarnya air dan sensasi yang dirasakan saat bergerak di dalam air bisa menjadi ajang melepas kepenatan.
Apalagi, olahraga ini kerap direkomendasikan sebagai olahraga yang bisa dijalani oleh penderita asma, maupun paru-paru. Itu karena, renang sangat membantu otot dada dan paru-paru anak pengidap asma supaya mengembang selanjutnya memperbesar kapasitas paru-paru sekaligus mengeluarkan lendir.
Sementara, bagi anak-anak normal, berenang akan menjadikan tubuh mereka lebih bugar dan sehat. Sebab, dalam proses berenang, semua otot di seluruh bagian tubuh akan terlatih termasuk jantung dan paru-paru akan bergerak. Jika tubuh sehat dan bugar, anak akan lebih konsentrasi dalam menjalani rutinitas sehari-hari termasuk konsentrasi belajar.
"Saat berenang, seluruh otot pada anggota tubuh anak akan bergerak dan terlatih. Sehingga, olahraga ini sangat tepat dipilih sebagai latihan agar otot lebih berkembang,"terang dr Fisher Iwan SpRM, dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RS Awal Bros Batam.
Ketika anak berenang, mereka melakukan aktivitas yang lebih dibandingkan jika hanya berendam. Sebab, ketika berenang anak sekaligus melatih pernafasan saat melakukan daya lawan air. Selain itu, kaki dan tangan juga akan terlatih.
Mengenai kapan waktu yang ideal untuk mengajarkan olahraga renang pada anak, dr Fisher menyarankan untuk memulai pelatihan renang setelah anak bisa berdiri sendiri. Sebab, bila anak masih belum begitu kuat berdiri dikhawatirkan terpeleset meskipun dalam pengawasan orangtua.
"Sebagai langkah penjagaan, orangtua juga bisa membekali anak dengan pelampung sebagai bentuk pengamanan anak dari kemungkinan tenggelam,"jelasnya.
Bukan itu saja, bagi anak yang masih relatif kecil, misalnya berumur satu tahun lebih, sebaiknya dipilih saat-saat di mana air kolam masih belum dingin. Misalnya sore hari menjelang petang yakni saat sinar matahari masih menyinari kolam. Sehingga, anak tidak merasa kedinginan.
"Sebelum anak mulai masuk kolam renang, sebaiknya anak juga mengawali aktivitas dengan program pemanasan. Setelahnya perlu juga mengakhiri dengan proses pendinginan. Hal itu penting agar tubuh tidak kaget setelah berenang,"saran dr Fisher.
Bila anak ingin belajar berenang di bawah bimbingan instruktur, bisa dilakukan saat anak berusia empat tahun. Sebab, pada usia ini secara mental, anak sudah mampu mempelajari berbagai teknik berenang dan mempraktikkannya. Kemampuan komunikasi dan berpikirnya untuk menyerap berbagai materi dan instruksi dari pelatih renang juga sudah berkembang baik.
Bukan itu saja, koordinasi otot tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya juga sudah bagus. Begitu juga keterampilan bernapasnya. Kematangan sistem neuromuskular (saraf dan otot) juga bisa mendukung anak untuk memulai pelajaran berenang. (*)
Sesuaikan dengan Kemampuan Anak
JIKA dilakukan secara rutin, berenang akan memberikan manfaat yang cukup banyak bagi tubuh. Bukan saja kebugaran, penjagaan stamina hingga terapi terhadap penyakit tertentu. Termasuk untuk kalangan anak-anak.
Hanya saja, mengingat aktivitas fisik ini membutuhkan tenaga yang cukup besar, orangtua tidak boleh terlalu memaksa anak untuk menjalani olahraga ini melebihi kemampuan anak. Sebab, hal tersebut justru akan menimbulkan rasa lelah yang berujung pada penurunan daya tahan tubuh.
Misalnya hanya dilakukan satu sampai dua kali dalam seminggu. Sedangkan untuk mencapai prestasi tertentu yakni bila anak berminat menjadi atlet, frekuensi bisa ditambah secara bertahap.
Selain membantu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh, berenang secara rutin juga bisa menjadi cara yang efektif membakar lemak untuk mengatasi kegemukan. Sehingga, renang dapat dijadikan cara menurunkan berat badan anak yang mengakami obesitas.
Namun, mengingat aktivitas berenang akan memunculkan rasa lapar setelahnya, orangtua harus turut mengatur pola makan anak sehingga tidak lepas kontrol. Sebab, jika anak dibiarkan menyantap makanan secara berlebihan usai berenang justru membuat anak lebih gemuk.
Hal lain yang tak kalah penting dijadikan alasan kenapa berenang penting diajarkan pada anak adalah untuk memupuk rasa kepercayaan diri anak. Sebab, ketrampilan baru yang dimiliki anak sudah pasti akan membuat anak bangga ketika berada di tengah pergaulan. (*)
Tetap Awasi Meski Sudah Mahir
SAAT anak sudah mulai pintar berenang dengan berbagai
Walau anak sudah terbilang mahir atau lihai dalam menjalani aktivitas berenang, tapi orangtua harus tetap mengontrol aktivitas anak selama berada di dalam kolam renang. Lantas, apa saja yang patut menjadi perhatian orangtua ketika menemani anak berenang?
1. Jangan lengah mengawasi anak selama aktivitas berenang berlangsung. Sebab, meski anak sudah mahir tetap saja ada kemungkinan terjadi kram atau tenggelam.
2. Biasakan anak makan satu atau dua jam sebelum aktivitas renang dimulai, Sebab, perut kosong akan menghilangkan banyak panas tubuh. Sebaliknya terlalu kenyang bisa memicu kram terutama jika melakukan gerakan-gerakan yang keras.
3. Oleskan sunblock dan pelembab untuk melindungi kulit anak dari sengatan matahari atau iritasi akibat kaporit.
4. Gunakan perlengkapan renang yang layak seperti baju renang yang pas melekat di tubuh, kacamata renang, dan kalau perlu penutup kepala.
5. Mandikan anak seusai berenang untuk membersihkan kuman dan senyawa seperti kaporit.
6. Jangan paksa anak berenang jika kondisinya tidak fit atau sedang sakit, meski sakitnya ringan. (*)
Diposkan oleh Mama Neisha... di 08:07 ![]()
SAATNYA BELAJAR BERENANG

Simaklah segudang alasannya.
| Mengapa usia 4 tahun diyakini sebagai masa emas untuk belajar berenang? Tidak salah lagi, karena kecepatannya beradaptasi dengan air terlihat efektif di usia ini. Dalam beberapa kali sesi belajar saja ia sudah tampak seperti Deni manusia ikan. Ya, inilah alasannya: * Secara mental, anak sudah mampu mempelajari berbagai teknik berenang dan mempraktikkannya. Kemampuan komunikasi dan berpikirnya untuk menyerap berbagai materi dan instruksi dari pelatih renang juga sudah berkembang baik. * Koordinasi otot tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya sudah bagus. Keterampilan bernapasnya pun oke. Si prasekolah sudah bisa mengatur napasnya kala berenang, kapan menghirup dan mengembuskan napasnya saat dibutuhkan. * Sistem neuromuskular (saraf dan otot) sudah matang. Penting diingat, semua gerakan otot dikoordinasikan oleh saraf-saraf di otak. Matangnya saraf-saraf di otak ini sangat berpengaruh pada kemampuan koordinasi dan motorik anak. PERLU INSTRUKTUR Agar bisa menguasai teknik berenang yang baik, orangtua perlu membimbingnya dengan benar. Jika merasa diri tidak mampu, datanglah ke instruktur profesional dan berpengalaman. Bisa berenang saja tidak cukup kalau mengharapkan hasil yang optimal. Sedangkan instruktur profesional memiliki materi yang diajarkan secara bertahap. Jika satu tahapan sudah dikuasai, maka akan dilanjutkan ke tahapan berikutnya. "Ibarat belajar berjalan, tahapan itu harus dilalui dengan benar, tidak bisa loncat-loncat," ujar Dr. Nani Cahyani, Sp.KO. Jika terjadi sesuatu pada anak, mereka juga sudah tahu apa yang dilakukan. Ini sangat penting, karena meski sudah diawasi dan didampingi, risiko celaka di kolam renang tetap ada. "Jika yang menanganinya tidak profesional, dikhawatirkan pertolongan lambat dilakukan. Nyawa atau kesehatan anak pun terancam." TAHAP BELAJAR Yonatan, instruktur pada Jakarta Swimming Course, menjelaskan tahapan-tahapan belejar renang berikut ini: 1. Beradaptasi dengan air. Anak harus dibiasakan bernapas dengan mulut bukan hidung saat di dalam air. Anak berdiri di pinggir kolam lalu membuat gerakan turun naik. Beberapa saat menyelam dan mengembuskan napas, lalu kembali ke permukaan untuk mengambil oksigen. Dilakukan berulang-ulang hingga anak terbiasa. 2. Latihan gerakan kaki bebas. Untuk pemula menggunakan pelampung dan kaki katak. Posisi tengkurap dan badan anak dipegangi. Anak memegang pelampung di depan kepala untuk mencegah tenggelam, sementara kaki katak membuat dorongan kuat saat berenang. Itu dilakukan terus-menerus hingga anak terampil melakukan gerakan kaki bebas. Gerakan kaki bebas yang bagus ditandai dengan kuatnya gerakan, keseimbangan dalam air, dan luncuran yang terarah. Jika gerakan ini sudah dikuasai dan teknik bernapasnya juga bagus, maka anak mulai tidak dipegangi. Sambil diawasi, anak diminta meluncur dari sudut satu ke sudut lainnya. Begitu seterusnya hingga anak benar-benar bisa. Selanjutnya anak belajar membuat gerakan tangan. 3. Belajar renang dengan gaya, yaitu gaya bebas dan gaya dada (gaya katak). Biasanya, jika gaya bebas sudah dikuasai, maka gaya-gaya lainnya bisa dipelajari dengan lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk menguasai gerakan dasar (meluncur) dan gaya-gaya lainnya sekitar 1-1,5 tahun dengan frekuensi latihan sekitar 2 kali seminggu. Penguasaan cara berenang tergantung pada kesungguhan anak, daya tangkap, kemampuan fisik, dan kemauan menjalankan instruksi. MANFAAT RENANG 1. TAMBAH BUGAR Berenang melibatkan semua otot di seluruh bagian tubuh. Semua organ vital, seperti jantung dan paru-paru ikut terlatih. Ini sangat menyehatkan dan membuat tubuh bertambah bugar. Daya tahan tubuh anak pun meningkat. Kondisi yang baik ini tentu akan menambah semangat belajar dan ia pun jadi tidak gampang sakit. Manfaat ini bisa dirasakan jika frekuensi olahraga disesuaikan dengan kemampuan anak. Artinya kalau berlebihan pun, olahraga justru membuat daya tahan tubuh anak merosot. Frekuensi berenang yang baik sekitar 1-2 kali seminggu, sedangkan khusus untuk prestasi (anak berminat menjadi atlet) frekuensi bisa ditambah secara bertahap. Kondisi anak pengidap asma akan sangat terbantu jika melakukan renang dengan teratur. Renang membuat otot dada dan paru-paru mengembang yang membuat kapasitasnya makin besar. Manfaat renang juga bisa dirasakan penderita epilepsi dan gangguan konsentrasi. Berkonsultasi ke dokter sebelum mengajak anak dengan gangguan tertentu berenang tentu amat bijak. 2. ATASI OBESITAS Berenang sangat efektif membakar lemak. Berdasarkan penelitian, sekitar 25% kalori bisa terbakar dengan berenang. Ini tentu sangat membantu anak-anak yang mengalami obesitas disamping perlunya pengaturan pola makan. Jika asupan ma-kanan tidak diatur, mungkin saja olahraga ini tidak jadi melangsingkan sebab olahraga berenang memicu rasa lapar. 3. KEPERCAYAAN DIRI Anak sangat senang jika memiliki keterampilan baru, termasuk berenang. Ini sangat baik untuk memupuk kepercayaan dirinya. PERHATIAN! 1. Awasi selalu saat anak berenang. Meskipun si kecil sudah terlihat lihai berenang dengan berbagai gaya di kolam renang, jangan ada satu detik pun yang terlewat untuk mengawasinya karena bisa saja ia tiba-tiba kram dan tenggelam. 2. Jangan sekali-kali berenang dalam keadaan perut kosong karena akan menghilangkan banyak panas tubuh. Makanlah 1-2 jam sebelum renang sehingga cadangan energi tercukupi. Berenang kala perut terlalu kenyang juga tidaklah baik karena saat itu otot lambung tengah bekerja dan dapat mengalami kram jika diajak melakukan gerakan-gerakan yang keras. 3. Sengatan matahari bisa membakar kulit. Bentengi kulit anak dengan krim anti-UV dan pelembap untuk melindungi kulit dari iritasi akibat kaporit. 4. Gunakan perlengkapan renang yang layak seperti baju renang yang pas melekat di tubuh, kacamata renang, dan kalau perlu penutup kepala. 5. Mandikan anak seusai berenang untuk membersihkan kuman dan senyawa seperti kaporit. 6. Jangan paksa anak berenang jika kondisinya tidak fit atau sedang sakit, meski sakitnya ringan. |
Selasa, 06 Januari 2009
Senin, 27 Oktober 2008
MANDALING DALAM LINTASAN SEJARAH

Beberapa legenda yang mengandungi unsur sejarah dan berkaitan dengan asal-usul marga orang Mandailing masih hidup di tengah masyarakat Mandailing. Seperti legenda Namora Pande Bosi dan legenda Si Baroar yang dtulis oleh Willem Iskandar pada abad ke-18. Tetapi legenda yang demikian itu tidak memberi keterangan yang cukup berarti mengenai sejarah Mandailing. Dalam bebrapa catatan sejarah seperti sejarah Perang Paderi yang disusun oleh M. Radjab, disebut-sebut mengenai Mandailing dan keterlibatan orang Mandailing dalam Perang Paderi. Catatan sejarah ini hanya berhubungan dengan masyarakat Mandailing pada abad ke-18 dan awal masuknya orang Belanda ke Mandailing. Bagaimana sejarh atau keadaan masyarakat Mandailing pada abad-abad sebelumnya tidak terdapat tulisan yang mencatatnya.
Kitab Negarakertagama
Mpu Prapanca, seorang pujangga Kerajaan Majapahit menulis satu kitab yang berjudul Negarakertagama sekitar tahun 1365. kitab tersebut ditulisnya dalam bentuk syair yang berisi keterangan mengenai sejarah Kerajaan Majapahit. Menurut Prof. Slamet Mulyana (1979:9). Kitab Negarakertagama adalah sebuah karya paduan sejarah dan sastra yang bermutu tinggi dari zaman Majapahit. Berabad-abad setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit, keberadaan dimana kitab ini tidak diketahui. Baru pada tahun 1894, satu Kitab Negarakertagama ditemukan di Puri Cakranegara di Pulau Lombok. Kemudian pada tanggal & Juli 1979 ditemukan lagi satu Kitab Negarakertagama di Amlapura, Kabupaten Lombok, Pulau Bali.
Dalam Pupuh XIII Kitab Negarakertagama, nama Mandailing bersama nama banyak negeri di Sumatera dituliskan oleh Mpu Prapanca sebagai negara bawahan Kerajaan Majapahit. Tidak ada keterangan lain mengenai Mandailing kecuali sebagai salah satu negara bawahan Kerajaan Majapahit. Namun demikian, dengan dituliskan nama Mandailing terdapatlah bukti sejarah yang otentik bahwa pada abad ke-14 telah diakui keberadaannya sebagai salah satu negara bawahan Kerajaan Majapahit.. pengertian negara bawahan dalam hal ini tidak jelas artinya karena tidak ada keterangan berikutnya.
Jadi dapatlah dikatakan bahwa Negri Mandailing sudah ada sebelum abad ke-14. Karena sebelum keberadaannya dicatat tentunya Mandailing sudah terlebih dahulu ada. Kapan Negeri Mandailing mulai berdiri tidak diketahui secara persis. Tetapi karena nama Mandailing dalam kitab ini disebut-sebut bersama nama banyak negeri di Sumatera termasuk Pane dan Padang Lawas, kemungkinan sekali negeri Mandailing sudah mulai ada pada abad ke-5 atau sebelumya. Karena Kerajaan Pane sudah disebut-sebut dalam catatan Cina pada abad ke-6. Dugaan yang demikian ini dapat dihubungkan dengan bukti sejarah berupa reruntuhan candi yang terdapat di Simangambat dekat Siabu. Candi tersebut adalah Candi Siwa yang dibangun sekitar abad ke-8.
Apakah pada abad ke-14 Mandailing merupakan satu kerajaan tidak diketahui. Karena dalam Kitab Negarakertagama, Mandailing tidak disebut-sebut sebagai kerajaan tetapi sebagai negara bawahan Kerajaan Majapahit. Tetapi dengan disebutkan negeri Mandailing sebagai negara, ada kemungkinan pada masa itu Mandailing merupakan satu kerajaan. Keterangan mengenai keadaaan Mandailing sebelum abad ke-14 tidak ada sama sekali kecuali keberadaaan Candi Siwa di Simangambat. Namun demikian, berdasarkan berbagai peninggalan dari zaman pra sejarah dan peninggalan dari zaman Hindu/Buddha yang terdapat di Mandailing kita dapat mengemukakan keterangan yang bersifat hipotesis.
Hipotesis Tentang Kerajaan Mandala Holing
Pada bagian terdahulu sudah dikemukakan bahwa di Simangambat terdapat reruntuhan Candi Siwa (Hindu) dari abad ke-8. Candi tersebut jauh lebih tua dari candi-candi di Portibi (Padang Lawas) yang menurut perkiraan para pakar dibangun pada abad ke-11. Dengan adanya candi ini bisa menimbulkan pertanyaan mengapa dan kapan ummat Hindu yang selanjutnya saya sebut orang Hindu dari India datang ke Mandailing yang terletak di Sumatera yang mereka namakan Swarna Dwipa (Pulau Emas).
Besar kemungkinan orang Hindu datang ke Mandailing yang terletak di Swarna Dwipa adlah untuk mencari emas. Dalam sejarah Inida, terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa sekitar abad pertama Masehi pasokan emas ke India yang didatangi dar Asia Tengan terhenti. Karena di Asia Tengan terjadi berbagai peperangan.Oleh karena itu kerajaan-kerajaan yang terdapat di India berusaha mendapatkan emas dari tempat lain yaitu dari Sumatera/Swarna Dwipa. Dalam hubungan ini kita mengerti bahwa di wilayah Mandailing yang pada masa lalu hingga kini di dalamnya termasuk kawasan Pasaman terdapat banyak emas. Bukti-bukti mengenai hal ini banyak sekali. Jadi besar sekali kemungkinan bahwa tempat yang dituju oleh orang Hindu dari India untuk mencari emas di Swarna Dwipa adalah daerah Mandailing. Pada masa daerah ini belum bernama Mandailing. Entah apa namanya kita tidak mengetahui.
Orang Hindu yang datang ke wilayah Mandailing adalah yang berasal dari negeri atau Kerajaan Kalingga di India. Oleh karena itu mereka disebut orang Holing atau orang Koling. Ada kemungkinan mereka masuk darri daerah Singkuang. Karena Singkuang yang merupakan tempat bermuaranya Sungai Batang Gadis cukup terkenal sebagai pelabuhan. Itulah sebabnya tempat tersebut dinamakan Singkuan oleh pedagang Cina yang berarti harapan bar. Karena melalui pelabuhan ini mereka biasa memperoleh berbagai barang dagangan yang penting yang berasal dari Sumatera seperti damar, gitan, gading dsb.
Menurut dugaan setelah orang Holing/Koling tiba di Singkuang, selanjutnya mereka menyusuri Sungai Batang Gadis ke arah hulunya. Dengan demikian maka akhirnya mereka sampai di satu dataran rendah yang subur yaitu di kawasan Mandailing Godang yang sekarang. Sejak zaman pra sejarah di kawasan tersebut dan di berbagai tempat di Mandailing sudah terdapat penduduk pribumi. Hal ini dibuktikan oleh adanya peninggalan dari zaman pra sejarah berupa lumpang-lumpang batu besar di tengah hutan di sekitar Desa Runding di seberang Sungai Batang Gadis dan bukti-bukti lainnya di berbagai tempat.
Pada waktu orang Holing/Koling sampai di kawasan Mandailing Godang (waktu itu kita tidak tahu nama kawasan ini) maka mereka bertemu dengan penduduk pribumi setempat. Penamaan orang Holing/Koling digunakan untuk menyebutkan orang Hindu yang berasal dari Negeri Kalingga tersebut dibuat oleh penduduk pribumi. Setibanya di wilayah Mandailing, orang-orang Holing/Koling tersebut menemukan apa yang mereka cari yaitu emas. Kita mengetahui melalui sejarah bahwa emas tercatat sebagai salah satu modal utama dalam berdirinya kerajaan-kerajaan besar dan emas juga merupakan sumber kemakmuran. Setelah orang-orang Hindu menemukan banyak emas di kawasan Mandailing yang sekarang ini, mereka kemudian menetap di kawasan tersebut. Karena orang-orang Holing/Koling menetap di kawasan itu maka dinamakan Mandala Holing/Koling. Mandala artinya lingkungan atau kawasan. Mandala Holing/Koling berarti lingkungan atau kawasan tempat tinggal orang-orang Holing/Koling. Sampai sekarang kita sering mendengar disebut-sebut adanya Banua Holing/Koling. Tetapi orang-orang tidak mengetahui dimana tempat yang dinamakan Banua Holing/Koling itu.
Berdasarkan hipotesis ini kita dapat mengatakan bahwa yang disebut Banua Holing/Koling itu adalah wilayah Mandailing yang dahulu ditempati oleh orang-orang Holing/Koling. Dengan kata lain Banua Holing/Koling adalah Mandala Holing/Koling. Berabad-abad kemudian Mandalan Holing/Koling dikenal sebagai Kerajaan Holing. Dalam hubungan ini Slamet Mulyana (1979:59) mengemukakan bahwa hubungan dagang dan diplomat antara Cina dan Jawa berlangsung mulai dari berdirinya Kerajaan Holing pada permulaan abad ke-7 sampai runtuhnya Kerajaan Majapahit pada permulaan abad ke-16. Sejalan dengan keterangan Slamer Mulyana ini kita dapat melihat hubungan antara Kerajaan Holing dengan adanya Candi Siwa Di Simangambat yang dibangunkan pada abad ke-8. Dalam hubungan ini dapat pula dikemukan bahwa dari berbagai catatan sejarah disebut-sebut adanya Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Holing. Tetapi sampai sekarang para sejarah belum menentukan dimana sebenarnya lokasinya yang pasti. Ada pakar sejarah yang menduga bahwa Kerajaan Kalingga terletak di Jawa Timur tetapi Kerajaan Holing yang disebut-sebut dalam catatan Cina tidak diketahui lokasinya yang pasti. Dan dapat pula dipertanyakan apakah Kerajaan Kalingga adalah yang disebut juga sebagai Kerajaan Holing.Dengan argumentasi yang telah dikemukan di atas, kita mengajukan dugaan (hipotesis) bahwa yang disebut Kerajaan Holing itu dahulu terletak di wilayah Mandailing yang juga disebut sebagai Kerajaan Mandala Holing/Koling. Kiranya cukup beralasan untuk menduga bahwa nama Mandahiling (Mandailing) yang disebut oleh Mpu Prapanca dalam Kitan Negarakertagama pada abad ke-14 berasal dari nama Mandalaholing yang kemudian mengalami perubahan penyebutan menjadi Mandahiling dan akhirnya kini menjadi Mandailing. Untuk membuktikan kebenaran dugaan atau hipotesis ini tentu masih perlu dilakukan penelitian. Dan ini merupakan tantangan bagi orang Mandailing yang berkedudukan sebagai pakar sejarah.
Diperkiranya orang-orang Hindu menetap di Kerajaan Mandalaholing (Kerajaan Holing/ Banua Holing) yang kaya dengan emas berabad-abad lamanya. Yaitu sejak mereka datang pertama kali pada abad-abad pertama Masehi. Sampai abad ke-13 orang-orang Hindu masih ada yang menetap di Mandailing yang sekarang ini. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya cukup banyak peninggalan Hindu/Buddha di wilayah Mandailing. Salah satu diantaranya adalah tiang batu di Gunung Sorik Merapi yang bertarikh abad ke-13 di kawasan Mandailing Godang (Pidoli) terdapat lokasi persawahan yang bernama Saba Biara. Yang disebut biara atau vihara adalah tempat orang-orang Hindu-Buddha melakukan kegiatan keagamaan. Pada waktu saya berkunjung ke tempat yang bernama Saba Biara itu beberapa tahun yang lalu, pada jalan masuk ke lokasi tersebut saya melihat di 5 (Lima) tempat adanya batu bata yang tersusun dalam lubang tanah yang dalamnya kurang lebih 2 (Dua) meter. Kemungkinan sekali batu bata yang tersusun itu adalah reruntuhan candi dari zaman dahulu. Susunan batu bata tersebut ada yang terletak pada gundukan tanah. Ketika orang-orang yang pulang dari sawah saya tanyakan apakan susunan batu bata seperti yang berada pada gundukan tanah itu ada terdapat di tengah persawahan, mereka mengatakan bahwa semua pulau-pulau (gundukan tanah) yang banyak terdapat di tengah persawahan adalah tumpukan atau susunan batu bata di bawahnya. Oleh karena itu besar sekali kemungkinan bahwa di lokasi yang bernama Saba Biara di Pidoli adalah reruntuhan puluhan candi peninggalan kerajaan Hindu/Buddha (Kerajaan Mandalaholing). Untuk membuktikannya perlu dilakukan eskavasi (penggalian)
Menurut dugaan Kerajaan Mandalaholing yang dahulu pernah terdapat di Mandailing yang sekarang meluas sampai ke kawasan Pasaman (yang dahulu merupakan bagian dari Mandailing). Menurut keterangan yang pernah saya peroleh di Pasaman, batas antara wilayah Mandailing dan wilayah Minangkabau terletak di Si Pisang lewat Palupuh. Sekarang batas antara Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Di kawasan Pasaman, yaitu di tempat yang bernama Tanjung Medan dekat Rao terdapat juga candi yang mirip keadaannya dengan candi di Portibi. Dan kita tahu bahwa di kawasan Pasaman juga terdapat emas yang dibutuhkan oleh orang-orang Hindu. Kalau tidak salah di kawasan yang bernama Manggani. Dan di kawasan itu juga terdapat tambang emas Belanda pada masa penjajahan.
Pengaruh Hindu Terhadap Pribumi Mandailing
Pada uraian yang di atas sudah dikemukan mengenai peninggalan-peninggalan dari zaman pra sejarah yang ditemukan di beberapa tempat di Mandailing. Peninggalan-peninggalan ini membuktikan bahwa sudah ada manusia yang mendiami wilayah Mandailing pada masa tersebut. Sebagai pribumi Mandailing, mereka terus berkembang smapai orang-orang Hindu datang dan menetap di Mandailing.
Besar kemungkinan antara penduduk pribumi hidp berdampingan secara damai dengan orang-orang Hindu yang menetap dan kemudian membangun kerajaan di wilayah Mandailing. Dugaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa meskipun banyak ditemukan peninggalan dari zaman Hindu di wilayah Mandailing, tapi ditemukan juga peninggalan kebudayaan pribumi Mandailing yang berkembang sendiri tanpa didominasi oleh pengaruh Hindu. Misalnya, patung-patung batu seperti yang terdapat di halaman Bagas Godang Panyabungan Tonga-Tonga dan patung-patung kayu yang terdapat di Hua Godang. Demikian juga ornamen-ornamen tradisional yang terdapat pada Bagas Godang dan Sopo Godang yang hanya sedikit sekali memperlihatkan pengaruh Hindu. Yakni pada ornamen berbentuk segitiga yang disebut bindu (pusuk robung) yang merupakan lambang dari Dalian Na Tolu. Dalam kebudayaan Hindu, Bindu (bentuk segitiga) merupakan lambang mistik hubungan manusia dengan dewa trimurti. Bagian-bagian lain dari ornamen tradisional tidak memperlihatkan adanya pengaruh Hindu. Dari bentuknya, ornamen-ornamen yang ada sampai sekarang ini hanya menggunakan garis-garis geometris (garis lurus), kecuali ornamen benda alam, buatan dan hewan seperti matahari, bulan, bintang, pedang, ular dll. Bentuk ornamen yang hanya menggunakan garis-garis geometris ini membuktikan ornamen tersebut berasal dari zaman yang sudah lama sekali (primitif).Pengaruh Hindu juga terdapat pada budaya tradisional Mandailing, antara lain pada penamaan desa na ualu (mata angin)dan pada gelar kebangsawanan seperti Mangaraja, Soripada, Batara Guru serta nama gunung seperti Dolok Malea. Keaneragaman bahasa Mandailing yang terdiri dari hata somal, hata sibaso, hata parkapur, hata teas dohot jampolak dan hata andung yang kosa katanya masing-masing berlainan menunjukkan budaya pribumi Mandailing sudah lama berkembang yang tentunya dihasilkan dari peradaban yang sudah tinggi yang tidak banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu. Jadi dapat disimpulkan bahwa meskipun orang Hindu lama menetap dan mengembangkan budayanya tetapi pribumi Mandailing tidak didominasi oleh orang-orang Hindu danbebas mengembangkan budayanya sendiri.
Adanya dua masyarakat, yaitu pribumi Mandailing dan orang Hindu yang masing-masing mengembangkan budayanya pada masa yang lalu di lingkuangan alam yang subur dan kaua dengan emas diduga kemungkinan besar Mandailing merupakan pusat peradaban di Sumatera pada masa awal abad-abad Masehi. Salah satu bukti mengenai hal ini adalah adanya ragam bahasa yang sudah disebutkan di atas dan adanya aksara yang dinamakan Surat Tulak-Tulak yang kemudian berkembang ke arah utara mulai dari Toba, Simalungun sampai Karo dan Pakpak. Penelitian para pakar sudah membuktikan bahwa aksara Mandailing (Surat Tulak-Tulak). Bahasa yang halus dan aksara yang dimiliki oleh sesuatu bangsa menunjukkan bahwa bangsa tersebut sudah mempunyai peradaban yang tinggi.
Ada permasalahan yang sampai sekarang belum terpecahkan, yaitu kapan orang Hindu lenyap dari wilayah Mandailing dan apa yang menyebabkan mereka hilang dari Mandailing. Setelah orang Hindu lenyap dari Mandailing, pribumi Mandailing terus mengembangkan kebudayaannya. Budaya Mandailing berkembang tanpa memperlihatkan pengaruh budaya Hindu yang esensial. Dalam kebudayaan Hindu salah satu esensial adalah konsep bahwa raja adalah wakil dewa di bumi yang mendasari feodalisme dalam pelaksanaan pemerintahan kerajaan. Masyarakat Mandailing tidak menganut konsep yang demikian itu dan pemerintahan yang demokratis yang dijalankan bersama-sama oleh Namora Natoras dan Raja. Hal ini dilambangkan oleh bangunan Sopo Godang sebagai balai sidang adat (pemerintahan) yang sengaja dibuat tidak berdinding agar rakyat dapat secara langsung melihat dan mendengar segala hal yang dibicarakan oleh para pemimpin mereka. Semuanya berlangsung secara transparan yang langsung disaksikan sendiri oleh rakyat. Setelah Belanda menjajah Mandailing, keadaan yang demikian itu mengalami banyak perubahan sehingga akhirnya muncul hal-hal yang feodalistis. Karena untuk memperkuat kedudukannya di Mandailing, Belanda berusaha mengembangkan hal-hal yang feodalistis untuk dapat menguasai rakyat Mandailing yang demokratis. Sifat rakyat Mandailing yang demokratis itu pada akhirnya mendorong munculnya pergerakan nasional di Mandailing sebagai pelopor pergerakan di Sumatera Utara.
Mandailing dan Perang Paderi
Pada tanggal 13 agustus 1814, Inggris dan Belanda melakukan perjanjian yang isinya menyatakan bahwa jajahan Belanda di Kepulauan Nusantara yang telah diambil Inggris harus dikembalikan kepada Belanda. Dengan dijalankan perjanjian itu pada tahun 1816, maka Belanda kembali berkuasa di Padang. Pada masa itu peperangan amtara kaum Paderi dan kaum adat di Minangkabau sudah berlangsung beberapa tahun lamanya. Untuk menghadapai kekuatan kaum Paderi, pimpinan kaum adat meminta bantuan kepada Belanda. Dengan demikian maka terlibatlah Belanda dalam perang Paderi.
Gerakan kaum Paderi sudah mulai meluas ke wilayah Mandailing. Salah satu alasan kamu Paderi memasuki Mandailing adalah untuk melakukan pengislaman terhadap penduduknya yang masih menganut animisme yang dinamakan sipele begu (memuja roh). Beberapa catatan mengatakan bahwa pada waktu kaum Paderi memasuki Mandailing. Beberapa orang raja di Mandailing dan sejumlah penduduk sudah mulai menganut agama Islam. Kapan orang-orang Mandailing mulai menganut agama Islam untuk pertama kalinya belum diperoleh keterangan yang didukung oleh bukti-bukti sejarah yang otentik. Tetapi setelah kaum Paderi menguasai Mandailing, mereka melakukan pengislaman terhadap semua penduduk dan penduduk yang sudah menganut agama Islam dengan sendirinya memihak kepada kaum Paderi. Ada catatan yang mengatakan menjelang masuknya kaum Paderi ke Mandailing sudah ada orang-orang Mandailing yang pergi dan belajar agama Islam di Bonjol yang merupakan salah satu pusat kedudukan kaum Paderi di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol.
Pada waktu kaum Paderi sudah menguasai Mandailing, mereka menempatkan tokoh-tokoh pemuka agama Islam untuk mendampingi raja-raja Mandailing dalam menjalankan pemerintahan. Tokoh-tokoh pemuka agama Islam tersebut dinamakan kadi. Pada waktu kesatuan wilayah kerajaan-kerajaan kecil di Mandailing yang dinamakan janjian dijadikan oleh kaum Paderi sebagai kesatuan wilayah keagamaan yang disebut kariah. Dan di setiap kariah didudukkan oleh kaum Paderi seorang kadi untuk mendampingi raja dalam menyelenggara pemerintahan dan urusan agama Islam.
Setelah Belanda menbantu kaum adat menghadapi kaum Paderi, maka lama kelamaan boleh dikatakan perang Paderi berubah keadaannya dari perang antara kaum adat dan kaum Paderi menjadi perang antara Belanda dan kaum Paderi. Dalam keadaan yang demikian itu pihak Belanda bukan lagi hanya membantu kaum adat dan memerangi kaum Paderi, tetapi Belanda mulai menggunakan kekuataannya untuk meluaskan lagi penjajahannya dari wilayah Minangkabau ke wilayah lain di sebelah utara termasuk ke Mandailing. Pada waktu perang Paderi makin meluas ke arah utara (ke arah Rao) yang berbatasan dengan wilayah Mandailing, niat Belanda untuk menaklukkan berbagai wilayah di bagian utara itu makin nyata. Dan ketika serdadu Belanda sampai di Sundatar yang terletak di sebelah selatan Rao, mereka sengaja menyiarkan kabar ke arah utara yaitu di kawasan Rao dan wilayah Mandailing jika rakyat di tempat tersebut tidak mau takluk kepada Belanda yang kuat persenjataannya mereka akan digempur dengan kekerasan (Radjab, 1964:163)
Sekitar tahun 1832, pada waktu pimpinan tentara Belanda Kolonel Elout dan Letnan Engelbert berad di Rao, Raja Gadombang dari Huta Godang di Mandailing datang menghadap mereka dengan maksud akan menawarkan bantuannya kepada tentara Belanda dalam perang membasmi kaum Paderi. Raja Gadombang sebenarnya dengan membantu tentara Belanda itu hendak membalaskan dendamnya dan dendam rakyat Mandailing yang telah bertahun-tahun diperintah, dianiaya dan dipelakukan sewenang-wenangnya oleh kaum Paderi (Radjab 1964: 166). Pada tahun 1833, sewaktu tentara Belanda dikepung pasukan kaum Paderi dalam Benteng Amorengen di Rao, Raja Gadombang yang sudah diangkat oleh Belanda sebagai Regen Mandailing dengan ratusan pasukannya datang membantu Belanda. Ketika Benteng Amorengen hampir jatuh ke tangan kaum Paderi datang pula bantuan pasukan Belanda dari Natal dibantu oleh 500 orang Batak yang kemudian bergabung dengan pasukan Raja Gadombang dan mereka bersama-sama menggempur pasukan kaum Paderi. Senadainya tidak datang bantuan tersebut pada tanggal 21 Januari 1833, keesokan harinya pasti semua tentara Belanda di Rao akan musnah sama sekali. Sebab mereka sudah lemah karena lama tak makan dan pelurunya hampir habis (Radjab, 1964: 187).
Setelah kaum Paderi tidak ada lagi di sekitar Rao pada tanggal 22 Januari 1833, 3 (tiga) orang opsir Belanda mengadakan rapat yang dihadiri oleh Tuanku Natal yang pro Belanda, Regen Mandailing Raja Gadombang dan beberapa orang hulubalang Batak (Radjab, 1964: 188). Selain dari Raja Gadombang, Sutan Malayu raja dari Pakantan dan Patuan Gogar Tengah Hari raja dari Muarasipongi ikut juga membantu Belanda. Pada bulan September 1833 ketika pasukan Belanda dari Rao melakukan serangan terhadap kaum Paderi di Bonjol di bawah pimpinan Mayor Eilers, pasukan Raja Gadombang dan Sutan Malayu ikut membantu. Dalam satu pertempuran di Lundar dekat Lubuk Sikaping ketika pasukan Raja Gadombang dan pasukan Sutan Malayu dalam perjalanan ke Bonjol, Raja Gadombang mengalami luka dan Sutan Malayu tewas dalam pertempuran tersebut (Radjab, 1964:261). Akhirnya serangan pasukan Belanda ke Bonjol yang dibantu oleh pasukan Raja Gadombang dan Sutan Malayu terpaksa mundur kembali ke Rao karena tak sanggup menghadapi kaum Paderi.
Pada bulan Oktober 1833, pasukan Belanda yang berada di Benteng Amorengen dikabarkan akan diserang oleh kaum Paderi dan rakyat Rao termasuk diantaranya yang dipimpin Tuanku Tambusai yang berada di sekitar tempat tesebut. Pada tanggal 20 Oktober 1833, rakyat dari Desa Padang Matinggi dekat Rao datang beramai-ramai menuju Benteng Amorengen dan mereka menembaki benteng tersebut. Kemudian datang pulak rakyat dari Desa Tarung-Tarung untuk membantu penyerangan ke Benteng Amorengen. Tangsi-tangsi pasukan Mandailing yang berada di sekitar Amorengen terus ditembaki oleh penduduk Rao. Keesokan harinya Raja Gadombang dan Datuk Gagah Tengah Hari datang bersama 800 orang pasukan Mandailing. Mereka memasuki tangsi-tangsi yang berada di sekitar Benteng Amorengen. Dalam keadaan yang demikian itu, rakyat Rao terus berusaha untuk mengepung Benteng Amorengen dan membuat kubu-kubu pertahanan di sekitar benteng tersebut. Melihat keadaan yang demikian itu, pasukan Belanda sebahagian keluar dari benteng dengan dibantu oleh pasukan Raja Gadombang dan Datuk Gagah Tengah Hari menyerang pasukan Paderi yang berada di luar Benteng Amorengen. Pada waktu itu, pasukan Paderi sedang melakukan sembahyang zhuhur. Dan pada saat itulah pasukan Belanda menyerang mereka dari belakang sehingga banyak pasukan Paderi yang tewas.
Sepanjang bulan Oktober sampai bulan November 1833, pasukan Paderi terus memperkuatkan kepungan mereka terhadap pasukan Belanda yang berada di Benteng Amorengen. Oleh karena itu pasukan Belanda mulai kekurangan bahan makanan. Pada tanggal 18 November, serdadu Belanda keluar dari benteng untuk menyerang pasukan Paderi yang menghalangi jalan yang dapat menghubungkan pasukan Belanda di Benteng Amorengen Rao dengan Huta Godang di Mandailing. Pasukan Paderi mereka sergap ketika sedang tidur. Namun demikian lama kelamaan pengepungan pasukan terhadap Benteng Amorengen semakin diperkuatkan sehingga keadaan pasukan Belanda yang berada di dalam benteng tersebut semakin sulit. Dalam keadaan yang demikian itu pemimpin pasukan Belanda mencoba berunding dengan kaum Paderi. Tetapi kaum Paderi menolaknya karena mereka dan rakyat Rao sudah mengambil keputusan untuk mengusir Belanda dari Rao dengan menghancurkan Benteng Amorengen. Kaum Paderi hanya mau berunding kalau pasukan Belanda bersedia meninggalkan Rao dan pergi ke pinggir pantai. Pasukan Belanda mencari jalan untuk meninggalkan Benteng Amorengen karena tahu tidak akan sanggup lagi menghadapi serangan kaum Paderi yang semakin banyak jumlahnya mengepung terus Benteng Amorengen. Berulang kali pasukan Belanda keluar benteng untuk menyerang pertahanan pasukan Paderi yang menghalangi jalan ke Mandailing. Dan sejak tanggal 24 November 1843, terjadi serang menyerang antara pasukan Belanda dan kaum Paderi yang silih berganti. Karena tidak sanggup lagi menghadapi kekuatan kaum Paderi akhirnya pimpinan pasukan Belanda memutuskan untuk meninggalkan perbentengan mereka di Rao dan memasuki daerah Mandailing untuk mencari tempat yang aman. Untuk itu pimpinan pasukan Belanda Mayor Eilers mengutus seorang tawanan menemui pimpinan pasukan Paderi untuk berunding agar pasukan Belanda diperbolehkan meninggalkan Rao. Akhirnya pimpinan pasukan Paderi memperkenankan permintaan pihak Belanda tersebut. Pasukan Belanda dan pasukan Raja Gadombang meninggalkan Rao menuju Mandailing pada tanggal 28 November 1883. setelah pasukan Belanda meninggalkan Benteng Amorengen kaum Paderi menghancurkan benteng tersebut. Pada hari itu juga pasukan Belanda tiba di Limau Manis sebuah desa di kawasan Muarasipongi.
Pasukan Belanda Memasuki Mandailing
Pada tanggal 29 November 1833, pasukan Belanda yang melarikan diri dari Rao meninggalkan Limau Manis menuju Desa Tamiang. Pasukan Belanda tiba di Desa Tamiang pada tanggal 02 Desember 1833 dan mereka bertangsi di sebuah mesjid (Radjab, 1964: 297). Selanjutnya pasukan Belanda membangun perbentengan di Singengu untuk menangkis serangan pasukan Paderi kalau mereka datang menyerang dari Rao. Kemudian pasukan Belanda membuat pula benteng pertahanan di Kotanopan yang tidak jauh letaknya dari Singengu. Demikianlah Belanda pertama kali menjejakkan kakinya di Mandailing setelah melarikan diri dari pengepungan pasukan Paderi di Rao. Lima bulan kemudian tepatnya bulan Mei 1834, Tuanku Tambusai dan pasukannya dengan dibantu oleh penduduk Rao datang menyerang dan mengepung pasukan Belanda di perbentengan mereka di Singengu dan Kotanopan. Tapi karena pasukan Belanda mendapat bantuan 200 orang serdadu dari Padang akhirnya pasukan Paderi itu meninggalkan Kotanopan.
Pada tahun 1835, seorang kontelir Belanda yang pertama mulai ditempatkan di Mandailing, yaitu Kontelir Bonnet. Pada tanggal 19 April 1835, Kontelir Bonnet mendapat perintah rahasia dari residen Belanda di Padang untuk mengirimkan bantuan kepada pasukan Letnan Beethoven yang ditugaskan untuk menyerang Rao. Kontelir Bonnet menyiapkan 1100 orang Mandailing yang dipersenjatai dan diberangkatkan menuju Rao pada tanggal 26 April 1835. Beberapa waktu kemudian pasukan Belanda mulai berada kembali di Rao dan berulang-ulang kali terjadi pertempuran antara mereka dengan kaum Paderi. Dan Raja Gadombang dengan pasukannya masih terus bekerja sama dengan pasukan Belanda untuk memerangi pasukan Paderi.
Pada bulan Oktober 1835 pada waktu Raja Gadombang sedang dalam perjalanan dari Lundar ke Sundatar bersama anak buahnya, mereka dihadang oleh pasukan Paderi. Seorang pasukan Paderi berhasil menembak perut Raja Gadombang dan beliau meninggal dunia keesokan harinya. Empat tahun kemudian (1839) setelah Raja Gadombang meninggal dunia dan dimakamkan di Huta Godang, adik beliau yang bernama Sutan Mangkutur memimpin perlawanan terhadap Belanda yang mulai menguasai Mandailing. Kurang lebih satu tahun setelah Sutan Mangkutur dan pasukannya memerangi Belanda di Mandailing, dengan tipu muslihat yang dibantu oleh orang yang menghianatinua maka Sutan Mangkutur berhasil ditangkap oleh Belanda di Huta Godang. Beberapa orang raja di Mandailing Julu yang bersimpati kepada Sutan Mangkutur dipaksa Belanda untuk membayar denda berupa emas setelah Sutan Mangkutur berhasil mereka tawan. Kemudian Sutan Mangkutur bersama tiga orang kahangginya dibuang oleh Belanda ke Pulau Jawa. Sampai sekarang tidak diketahui dimana letak makam Sutan Mangkutur dengan dua orang saudaranya tersbut. Satu orang diantaranya Raja Mangatas sempat kembali ke Huta Godang dari Jawa Barat. Tetapi beliau tidak mengetahui dimana makam Sutan Mangkutur dan dua orang saudaranya yang lain.
Willem Iskandar Mencerdaskan Bangsanya
Dalam perjalanan sejarah etnis Mandailing sepanjang abad ke-18 tokoh Willem Iskandar wajib dicatat. Karena jasanya sangat besar bagi etnis Mandailing dalam usaha untuk mencerdaskan bangsanya. Dan juga Willem Iskandar berjasa besar untuk mempelopori perkembangan pendidikan modern di Sumatera bagian Utara. Willem Iskandar adalah putera Mangaraja Tinating marga Nasution dan si Anggur boru Lubis. Ia lahir pada tahun 1840 di Pidoli Lombang. Pada masa kecilnya ia bernama si Sati dan kemudian bergelar Sutan Sikondar.
Pada tahun 1857 dalam usia 17 tahun, si Sati dibawa oleh Asisten Reiden Godon ke Negeri Belanda untuk belajar di sekolah guru. Setelah mendapat ijazah guru di Negeri Belanda, si Sati yang diberi gelar Willem Iskandar ketika berada di Negeri Belanda kembali ke Indonesia dan tiba di Batavia pada bulan Desember 1861. Kemudian ia kembali ke Mandailing dan dalam usia 22 tahun, yaitu pada tahun 1862 Willem Iskandar mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Desa Tano Bato yang tidak jauh letaknya dari desa tempat kelahirannya. Selama kurang dari 12 tahun (1862-1874), Willem Iskandar memimpin sekolah tersebut dan sekaligus menjadi gurunya. Pada tahun 1874 Willem Iskandar pergi untuk kedua kalinya ke Negeri Belanda untuk melanjutkan pendidikan guru. Selam dipimpin oleh Willem Iskandar, Sekolah Tano Bato pernah dijadikan pemerintah Belanda sebagai contoh untuk sekolah-sekolah guru di Indonesia. Murid-murid yang telah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tano Bato kemudian diangkat menjadi guru di berbagai sekolah yang dibangun Belanda di Mandailing dan Angkola. Dan murid-murid mereka banyak yang menjadi guru di kemudian hari di berbagai tempat di Sumatera Utara. Itulah sebabnya maka dapat dikatakan bahwa Willem Iskandar adalah pelopor pendidikan di Sumatera bagian utara. Ada diantara murid dari murid-murid Willem Iskandar yang menjadi guru sampai ke Aceh.
Pada waktu berada di Negeri Belanda untuk kedua kalinya pada tanggal 27 Januari 1876, Willem Iskandar menikah dengan seorang gadis Belanda bernama Maria Jacoba Christina Winter. Tetapi baru beberapa bula mereka berumah tangga pada bulan Mei tahun 1876 Willem Iskandar meninggal dunia di Amsterdam dalam usia 36 tahun. Seandainya ia tidak meninggal dunia Willem Iskandar sudah direncanakan akan memimpin sekolah guru (kweekschool) yang dibangun oleh Belanda di Padang Sidempuan.
Semasa hidupnya selain dikenal sebagai seorang pelopor pendidikan guru, Willem Iskandar populer pula sebagai penyair Mandailing terkemuka pada abad ke-18. ia menulis puisi-puisi yang sangat indah dan sangat penting isinya dalam bahasa Mandailing yang puitis dan juga menulis cerita pendek serta menerjemahkan beberapa buku berbahasa Belanda ke dalam Bahasa Melayu dan Bahasa Mandailing. Puisi-puisi dan cerita pendek seta drama pendek karya Willem Iskandar dikumpulkan dalam buku berjudul Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk yang diterbitkan oleh Batavia pertama kali pada tahun 1872. Buku tersebut pada masa dahulu sangat populer di kalangan masyarakat Mandailing dan Angkola dan dicetak ulang beberapa kali. Puisi-puisi Willem Iskandar yang berisi semnagat kebangsaan (nasionalisme) mengilhami para pemuda pergerakan di Mandailing pada tahun 1930-an. Dan mereka menggunakannya untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan semangat anti penjajahan di tengah masyarakat Mandailing. Oleh karena itu buku Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk pernah dilarang oleh pemerintah Belanda sebagai bacaan.
Perlawanan terhadap Belanda dan Akhir Penjajahannya di Mandailing
Seperti yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu meskipun orang Mandailing yang pernah bekerja sama dengan Belanda pada masa Perang Paderi, tetapi ada pula rakyat Mandailing yang bangkit melawan Belanda mendahului penduduk lain di Sumatera Utara. Yaitu dalam perang Mandailing yang dipimpin oleh Sutan Mangkutur dan rekan-rekannya pada tahun 1839.
Pada masa munculnya pergerakan nasional, para pemuda Mandailing tercatat pula sebagai pelopor di Sumatera Utara. Rasa kebangkitan orang Mandailing yang tidak menyukai penjajahan sejak abad ke-18 dapat ditemukan di dalam puisi-puisi Willem Iskandar. Meskipun ia mendapat pendidikan di Negeri Belanda tetapi ia mengutamakan rasa kebangsaaan dan cinta tanah air yang didukung dengan cita-cita kemajuan untuk bangsanya melalui pendidikan. Hal ini sangat nyata dia ekspresikan melalui isi puisi-puisinya. Dan ternyata puisi-puisinya itu memberi semangat dan ilham bagi para pemuda pergerakan di Mandailing untuk ikut bangkit melawan penjajahan Belanda pada tahun 1930-an. Mereka bangkit mendahului pemuda-pemuda pergerakan di berbagai daerah lain di Sumetera Utara. Akibatnya ada beberapa orang diantara pemuda Mandailing itu yang dibuang ke Digul karena ikut dalam pergerakan melawan Belanda.
Perlawanan yang dilakukan oleh pemuda Mandailing di tahun 1930-an itu merupakan bagian dari perjuangan rakyat Mandailing untuk melepaskan negerinya dan tanah airnya dari penjajahan Belanda yang berakhir dengan datangnya masa pendudukan Jepang pada tahun 1942. Dengan demikian sejarah membuktikan bahwa Mandailing tidak termasuk di antara negeri-negeri di Nusantara yang dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Mandailing hanya dijajah oleh Belanda kurang lebih satu abad saja (1835-1942). Masa penjajahan Jepang meskipun hanya berlangsung kurang lebih 3 (tiga) tahun saja menimbulkan banyak pengalaman pahit bagi rakyat Mandailing.
Selama masa perang kemerdekaan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Mandailing tidak setapak pun pernah lagi diinjak oleh Belanda seperti daerah-daerah lain di Nusantara. Dan dalam perang kemerdekaan itu ada diantara putera Mandailing yang tampil sebagai tokoh sangat penting dalam memimpin perajurit-perajurit Indonesia berperang melawan Belanda. Sehingga akhirnya putera Mandailing tersebut tercatat sebagai salah satu dari 3 (tiga) Jenderal Besar yang dimiliki bangsa Indonesia.
Meskipun terpaksa dicatat sebagai pengalaman pahit, sebahagian rakyat Mandailing pernah pula terlibat dalam pemberontakan melawan perbuatan pemerintah pusat yang dirasakan tidak adil terhadap daerah. Hal ini kenyataan sejarah yang dapat diingkari dan tidak pula harus membuat rakyat Mandailing merasa malu.
Penutup
Barangkali tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan dengan terbentuknya Kabupaten Mandailing Natal,Mandailing telah kembali ke tangan orang Mandailing. Dan hal ini harus kita sadari sebagai tantangan besar bagi rakyat Mandailing sendiri dalam perjalanan sejarah selanjutnya. Tantangan itu harus diatasi oleh rakyat Mandailing sendiri terutama dengan cara yang dilandaskan kesadaran kultural (budaya Mandailing) yang berpangkal pada ajaran nenek moyang orang Mandailing yang mengatakan olong do mula ni adat dohot ugari, olong maroban domu, domu maroban parsaulian. Tampakna do rantosna rim ni tahi do na gogo. Marsitiop togu di adat dalian na tolu, marsitiap gogo di poda na lima.
Sai sayur matua bulung ma nian Kabupaten Mandailing Natal na togu jong-jong di tano rura Mandailing on, i ma tano sere tano omas si gumorsing na sun tarbonggal tu jae tu julu, tu desa na ualu.









