MY TEAM

MY TEAM

Kamis, 08 Januari 2009

LATIH OTOT ANAK DENGAN BERENANG


skip to main | skip to sidebar


Latih Otot Anak dengan Olahraga Renang

BERENANG merupakan olahraga yang cukup digemari semua kalangan termasuk anak- anak. Hal itu tak mengherankan mengingat renang bukan saja menyehatkan tapi juga menyenangkan. Segarnya air dan sensasi yang dirasakan saat bergerak di dalam air bisa menjadi ajang melepas kepenatan.
Apalagi, olahraga ini kerap direkomendasikan sebagai olahraga yang bisa dijalani oleh penderita asma, maupun paru-paru. Itu karena, renang sangat membantu otot dada dan paru-paru anak pengidap asma supaya mengembang selanjutnya memperbesar kapasitas paru-paru sekaligus mengeluarkan lendir.
Sementara, bagi anak-anak normal, berenang akan menjadikan tubuh mereka lebih bugar dan sehat. Sebab, dalam proses berenang, semua otot di seluruh bagian tubuh akan terlatih termasuk jantung dan paru-paru akan bergerak. Jika tubuh sehat dan bugar, anak akan lebih konsentrasi dalam menjalani rutinitas sehari-hari termasuk konsentrasi belajar.
"Saat berenang, seluruh otot pada anggota tubuh anak akan bergerak dan terlatih. Sehingga, olahraga ini sangat tepat dipilih sebagai latihan agar otot lebih berkembang,"terang dr Fisher Iwan SpRM, dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RS Awal Bros Batam.
Ketika anak berenang, mereka melakukan aktivitas yang lebih dibandingkan jika hanya berendam. Sebab, ketika berenang anak sekaligus melatih pernafasan saat melakukan daya lawan air. Selain itu, kaki dan tangan juga akan terlatih.
Mengenai kapan waktu yang ideal untuk mengajarkan olahraga renang pada anak, dr Fisher menyarankan untuk memulai pelatihan renang setelah anak bisa berdiri sendiri. Sebab, bila anak masih belum begitu kuat berdiri dikhawatirkan terpeleset meskipun dalam pengawasan orangtua.
"Sebagai langkah penjagaan, orangtua juga bisa membekali anak dengan pelampung sebagai bentuk pengamanan anak dari kemungkinan tenggelam,"jelasnya.
Bukan itu saja, bagi anak yang masih relatif kecil, misalnya berumur satu tahun lebih, sebaiknya dipilih saat-saat di mana air kolam masih belum dingin. Misalnya sore hari menjelang petang yakni saat sinar matahari masih menyinari kolam. Sehingga, anak tidak merasa kedinginan.
"Sebelum anak mulai masuk kolam renang, sebaiknya anak juga mengawali aktivitas dengan program pemanasan. Setelahnya perlu juga mengakhiri dengan proses pendinginan. Hal itu penting agar tubuh tidak kaget setelah berenang,"saran dr Fisher.
Bila anak ingin belajar berenang di bawah bimbingan instruktur, bisa dilakukan saat anak berusia empat tahun. Sebab, pada usia ini secara mental, anak sudah mampu mempelajari berbagai teknik berenang dan mempraktikkannya. Kemampuan komunikasi dan berpikirnya untuk menyerap berbagai materi dan instruksi dari pelatih renang juga sudah berkembang baik.
Bukan itu saja, koordinasi otot tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya juga sudah bagus. Begitu juga keterampilan bernapasnya. Kematangan sistem neuromuskular (saraf dan otot) juga bisa mendukung anak untuk memulai pelajaran berenang. (*)

Sesuaikan dengan Kemampuan Anak
JIKA dilakukan secara rutin, berenang akan memberikan manfaat yang cukup banyak bagi tubuh. Bukan saja kebugaran, penjagaan stamina hingga terapi terhadap penyakit tertentu. Termasuk untuk kalangan anak-anak.
Hanya saja, mengingat aktivitas fisik ini membutuhkan tenaga yang cukup besar, orangtua tidak boleh terlalu memaksa anak untuk menjalani olahraga ini melebihi kemampuan anak. Sebab, hal tersebut justru akan menimbulkan rasa lelah yang berujung pada penurunan daya tahan tubuh.
Misalnya hanya dilakukan satu sampai dua kali dalam seminggu. Sedangkan untuk mencapai prestasi tertentu yakni bila anak berminat menjadi atlet, frekuensi bisa ditambah secara bertahap.
Selain membantu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh, berenang secara rutin juga bisa menjadi cara yang efektif membakar lemak untuk mengatasi kegemukan. Sehingga, renang dapat dijadikan cara menurunkan berat badan anak yang mengakami obesitas.
Namun, mengingat aktivitas berenang akan memunculkan rasa lapar setelahnya, orangtua harus turut mengatur pola makan anak sehingga tidak lepas kontrol. Sebab, jika anak dibiarkan menyantap makanan secara berlebihan usai berenang justru membuat anak lebih gemuk.
Hal lain yang tak kalah penting dijadikan alasan kenapa berenang penting diajarkan pada anak adalah untuk memupuk rasa kepercayaan diri anak. Sebab, ketrampilan baru yang dimiliki anak sudah pasti akan membuat anak bangga ketika berada di tengah pergaulan. (*)

Tetap Awasi Meski Sudah Mahir
SAAT anak sudah mulai pintar berenang dengan berbagai gaya, biasanya anak akan semakin rajin menjalani aktivitas tersebut. Menunjukkan ketrampilan dan kemampuan baru pada setiap orang bisa menjadi saat yang membanggakan bagi seorang anak.
Walau anak sudah terbilang mahir atau lihai dalam menjalani aktivitas berenang, tapi orangtua harus tetap mengontrol aktivitas anak selama berada di dalam kolam renang. Lantas, apa saja yang patut menjadi perhatian orangtua ketika menemani anak berenang?
1. Jangan lengah mengawasi anak selama aktivitas berenang berlangsung. Sebab, meski anak sudah mahir tetap saja ada kemungkinan terjadi kram atau tenggelam.
2. Biasakan anak makan satu atau dua jam sebelum aktivitas renang dimulai, Sebab, perut kosong akan menghilangkan banyak panas tubuh. Sebaliknya terlalu kenyang bisa memicu kram terutama jika melakukan gerakan-gerakan yang keras.
3. Oleskan sunblock dan pelembab untuk melindungi kulit anak dari sengatan matahari atau iritasi akibat kaporit.
4. Gunakan perlengkapan renang yang layak seperti baju renang yang pas melekat di tubuh, kacamata renang, dan kalau perlu penutup kepala.
5. Mandikan anak seusai berenang untuk membersihkan kuman dan senyawa seperti kaporit.
6. Jangan paksa anak berenang jika kondisinya tidak fit atau sedang sakit, meski sakitnya ringan. (*)

SAATNYA BELAJAR BERENANG




Simaklah segudang alasannya.

Mengapa usia 4 tahun diyakini sebagai masa emas untuk belajar berenang? Tidak salah lagi, karena kecepatannya beradaptasi dengan air terlihat efektif di usia ini. Dalam beberapa kali sesi belajar saja ia sudah tampak seperti Deni manusia ikan. Ya, inilah alasannya:

* Secara mental, anak sudah mampu mempelajari berbagai teknik berenang dan mempraktikkannya. Kemampuan komunikasi dan berpikirnya untuk menyerap berbagai materi dan instruksi dari pelatih renang juga sudah berkembang baik.

* Koordinasi otot tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya sudah bagus. Keterampilan bernapasnya pun oke. Si prasekolah sudah bisa mengatur napasnya kala berenang, kapan menghirup dan mengembuskan napasnya saat dibutuhkan.

* Sistem neuromuskular (saraf dan otot) sudah matang. Penting diingat, semua gerakan otot dikoordinasikan oleh saraf-saraf di otak. Matangnya saraf-saraf di otak ini sangat berpengaruh pada kemampuan koordinasi dan motorik anak.

PERLU INSTRUKTUR

Agar bisa menguasai teknik berenang yang baik, orangtua perlu membimbingnya dengan benar. Jika merasa diri tidak mampu, datanglah ke instruktur profesional dan berpengalaman. Bisa berenang saja tidak cukup kalau mengharapkan hasil yang optimal. Sedangkan instruktur profesional memiliki materi yang diajarkan secara bertahap. Jika satu tahapan sudah dikuasai, maka akan dilanjutkan ke tahapan berikutnya. "Ibarat belajar berjalan, tahapan itu harus dilalui dengan benar, tidak bisa loncat-loncat," ujar Dr. Nani Cahyani, Sp.KO.

Jika terjadi sesuatu pada anak, mereka juga sudah tahu apa yang dilakukan. Ini sangat penting, karena meski sudah diawasi dan didampingi, risiko celaka di kolam renang tetap ada. "Jika yang menanganinya tidak profesional, dikhawatirkan pertolongan lambat dilakukan. Nyawa atau kesehatan anak pun terancam."

TAHAP BELAJAR

Yonatan, instruktur pada Jakarta Swimming Course, menjelaskan tahapan-tahapan belejar renang berikut ini:

1. Beradaptasi dengan air. Anak harus dibiasakan bernapas dengan mulut bukan hidung saat di dalam air. Anak berdiri di pinggir kolam lalu membuat gerakan turun naik. Beberapa saat menyelam dan mengembuskan napas, lalu kembali ke permukaan untuk mengambil oksigen. Dilakukan berulang-ulang hingga anak terbiasa.

2. Latihan gerakan kaki bebas. Untuk pemula menggunakan pelampung dan kaki katak. Posisi tengkurap dan badan anak dipegangi. Anak memegang pelampung di depan kepala untuk mencegah tenggelam, sementara kaki katak membuat dorongan kuat saat berenang. Itu dilakukan terus-menerus hingga anak terampil melakukan gerakan kaki bebas. Gerakan kaki bebas yang bagus ditandai dengan kuatnya gerakan, keseimbangan dalam air, dan luncuran yang terarah. Jika gerakan ini sudah dikuasai dan teknik bernapasnya juga bagus, maka anak mulai tidak dipegangi. Sambil diawasi, anak diminta meluncur dari sudut satu ke sudut lainnya. Begitu seterusnya hingga anak benar-benar bisa.

Selanjutnya anak belajar membuat gerakan tangan.

3. Belajar renang dengan gaya, yaitu gaya bebas dan gaya dada (gaya katak). Biasanya, jika gaya bebas sudah dikuasai, maka gaya-gaya lainnya bisa dipelajari dengan lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk menguasai gerakan dasar (meluncur) dan gaya-gaya lainnya sekitar 1-1,5 tahun dengan frekuensi latihan sekitar 2 kali seminggu. Penguasaan cara berenang tergantung pada kesungguhan anak, daya tangkap, kemampuan fisik, dan kemauan menjalankan instruksi.

MANFAAT RENANG

1. TAMBAH BUGAR

Berenang melibatkan semua otot di seluruh bagian tubuh. Semua organ vital, seperti jantung dan paru-paru ikut terlatih. Ini sangat menyehatkan dan membuat tubuh bertambah bugar. Daya tahan tubuh anak pun meningkat. Kondisi yang baik ini tentu akan menambah semangat belajar dan ia pun jadi tidak gampang sakit. Manfaat ini bisa dirasakan jika frekuensi olahraga disesuaikan dengan kemampuan anak. Artinya kalau berlebihan pun, olahraga justru membuat daya tahan tubuh anak merosot. Frekuensi berenang yang baik sekitar 1-2 kali seminggu, sedangkan khusus untuk prestasi (anak berminat menjadi atlet) frekuensi bisa ditambah secara bertahap.

Kondisi anak pengidap asma akan sangat terbantu jika melakukan renang dengan teratur. Renang membuat otot dada dan paru-paru mengembang yang membuat kapasitasnya makin besar. Manfaat renang juga bisa dirasakan penderita epilepsi dan gangguan konsentrasi. Berkonsultasi ke dokter sebelum mengajak anak dengan gangguan tertentu berenang tentu amat bijak.

2. ATASI OBESITAS

Berenang sangat efektif membakar lemak. Berdasarkan penelitian, sekitar 25% kalori bisa terbakar dengan berenang. Ini tentu sangat membantu anak-anak yang mengalami obesitas disamping perlunya pengaturan pola makan. Jika asupan ma-kanan tidak diatur, mungkin saja olahraga ini tidak jadi melangsingkan sebab olahraga berenang memicu rasa lapar.

3. KEPERCAYAAN DIRI

Anak sangat senang jika memiliki keterampilan baru, termasuk berenang. Ini sangat baik untuk memupuk kepercayaan dirinya.

PERHATIAN!

1. Awasi selalu saat anak berenang. Meskipun si kecil sudah terlihat lihai berenang dengan berbagai gaya di kolam renang, jangan ada satu detik pun yang terlewat untuk mengawasinya karena bisa saja ia tiba-tiba kram dan tenggelam.

2. Jangan sekali-kali berenang dalam keadaan perut kosong karena akan menghilangkan banyak panas tubuh. Makanlah 1-2 jam sebelum renang sehingga cadangan energi tercukupi. Berenang kala perut terlalu kenyang juga tidaklah baik karena saat itu otot lambung tengah bekerja dan dapat mengalami kram jika diajak melakukan gerakan-gerakan yang keras.

3. Sengatan matahari bisa membakar kulit. Bentengi kulit anak dengan krim anti-UV dan pelembap untuk melindungi kulit dari iritasi akibat kaporit.

4. Gunakan perlengkapan renang yang layak seperti baju renang yang pas melekat di tubuh, kacamata renang, dan kalau perlu penutup kepala.

5. Mandikan anak seusai berenang untuk membersihkan kuman dan senyawa seperti kaporit.

6. Jangan paksa anak berenang jika kondisinya tidak fit atau sedang sakit, meski sakitnya ringan.

Selasa, 06 Januari 2009